Oleh : Nakisya Melani Kelas 8C
Namaku Jeanita teman-teman biasa memanggilku Jeje. Sekarang aku duduk di kelas 2 SMP. Hari ini pertama kalinya aku masuk ke kelas 8C. Rasanya canggung sekali. Kebanyakan teman sekelas kali ini tidak ku kenal.
Setibanya di kelas ku duduk paling depan, tak begitu lama datang seorang teman yang menyapaku. “Hai… aku Anita, boleh aku duduk di sini?” sapanya sambil menunjuk samping tempat dudukku. “Silakan…” jawabku dengan senyum ramah.
Tidak membutuhkan waktu lama, kita pun tampak akrab. Saling bercerita dan tukar nomor hp. Satu per satu teman-teman yang lain datang. Terlihat masih kaku. Lalu datanglah salah satu teman yang cukup menyita perhatian.
Dia memiliki tubuh yang subur dibandingkan teman-teman seumurannya. Perawakannya tinggi dan berkulit putih serta berkaca mata. Jika diperhatikan Wajahnya tampan dan cukup imut. Ketika dia masuk ke kelas semua mata tertuju kepadanya. Dia pun tampak salah tingkah sambil duduk di samping tempat dudukku.
Dia menoleh ke arahku dan tersenyum. Ku balas senyumnya.
“Aku Ghavi, kalian namanya siapa?” sapanya sambil berdiri menyulurkan tangan.
“Aku, Jeje dan ini Nita” jawabku sambil membalas jabat tangannya dan menunjuk ke arah Anita.
Seiring berjalan waktu sifat asli dari teman-teman sekelas mulai terungkap. Ada yang suka cerita saat pelajaran berlangsung. Ada yang suka sedikit-dikit izin tidak masuk dengan berbagai macam alasan, dari kesiangan sampai kepentingan keluarga. Ada yang suka usil, sampai motonya “hidup ga asyik kalo ga usil”. Tapiii… dari sekian sifat yang tidak baik itu, masih banyak teman-teman yang kritis dan pinter dalam pelajaran.
Kalau Anita dan Ghavi termasuk teman yang pintar di kelas. Sayangnya, Ghavi tidak punya teman. Kata teman-teman dia itu orangnya aneh. Suka cerita-cerita tidak penting. Kadang juga ketawa-ketawa tidak jelas. Mungkin menurut dia lucu, tapi kata teman-teman sama sekali tidak. Makanya, teman-teman jadi malas berteman dengannya.
Terkadang Ghavi mencoba bergabung dengan Aku dan Anita, walaupun terkadang aneh. Menurut kami tidak ada salahnya berteman dengannya. Toh, semua orang mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Suatu hari di mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kami ditugasi Ibu guru Maya untuk membuat video drama tentang cerita rakyat. Video tersebut diminta untuk diunggah di media sosial. Melihat ekspresi teman-teman setelah Ibu guru menyuruh tugas itu sepertinya tampak suram. Ada yang menggeleng- gelengkan kepala. Ada yang tepuk jidat. Ada pula yang bertopang dagu sambil cemberut. Aku tahu teman-teman jarang yang bisa mengedit video.
“Anak-anak, tadi kita sudah belajar tentang materi membuat naskah drama. Ibu guru menugaskan kalian untuk membuat video drama sesuai kelompok bertemakan cerita rakyat yang ada di tempat kalian masing-masing. Setelah itu unggah video kalian dalam media sosial ‘You tube’. Apakah bisa dipahami?” Tanya Ibu guru.
“Bisa dipahami, Bu…” Jawab kami serentak dengan berbagai ekspresi.
Lain halnya dengan Ghavi, dia tampak sumringah. Senyumnya mengembang. Aku menoleh ke arahnya. Dia pun sadar dan memberiku isyarat tanda jempol. Aku tahu kalau Ghavi ahli dalam bidang digital. Segala macam digital, dia kuasai. Apalagi kalau hanya sekadar membuat video dan mengeditnya? Itu hal kecil baginya.
Sepulang sekolah kami pun mulai merencanakan konsep video dan mulai membuatnya. Setelah selesai kami serahkan tugas mengedit kepadanya. Ghavi pun menerima dengan gembira.
“Ghav, kita tadi udah bikin videonya. Kami serahin tugas ngedit ini ke kamu. Kami yakin kamu pasti keren dalam urusan ini,” kataku dengan sungguh-sungguh.
“Oke, tenang aja. Serahin aja ini ke aku. Pokonya aku bakal melakukan yang terbaik buat kelompok kita” terang Ghavi dengan senyum-senyum.
***
Tibalah waktu penilaian tugas Bahasa Indonesia. Kelompok kami diberi nilai memuaskan oleh Ibu guru Maya dibandingkan kelompok lainnya.
“Ibu, sungguh kagum sekali dengan kelompok Ghavi dan kawan-kawan. Videonya terlihat jelas dan tersaji dengan menarik serta rapi. Tampak sekali keseriusan dalam pengerjaannya. Maka dari itu Ibu beri kelompok ini dengan nilai memuaskan” Puji Ibu guru.
“Terima kasih, Bu guru” Jawab kami dengan kompak.
Itulah awal dari keahlian Ghavi dalam dunia digital mulai dikenal seantero sekolah. Banyak ajang perlombaan yang berkaitan dengan digital dia ikuti dan mendapatkan juara. Tak heran banyak dari teman sekelas, ingin belajar tentang dunia digital bersama dengannya. Mereka menyadari setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Mungkin dia terkadang aneh, tapi teman-teman sadar. Setiap manusia tidak ada yang terlahir sempurna.
Keahlian Ghavi dalam dunia digital ini berawal dari orang tuanya yang merupakan guru TIK. Ketika di rumah, orang tuanya sering membimbingnya. Ghavi pun rajin menambah wawasan digitalnya dari internet. Maka tak heran, dia memiliki keahlian di atas teman sebayanya. Menurutnya di era modern seperti sekarang ini sangat penting mengusai dunia digital. Supaya kita menjadi generasi yang ‘melek’ teknologi sehingga tidak tertinggal dengan perkembangan zaman.
