Oleh : Khiar Praba Billie Naraya Kelas 7E
BUMIJAWA-Wisata Watu lawang merupakan salah satu kawasan wisata yang baru-baru ini di buka menjadi kawasan wisata alam, merupakan sebuah bebatuan kuno bahkan menjadi destinasi budaya di Desa Bumijawa Kabupaten Tegal Jawa tengah. Wisata watu lawang menyuguhkan keasrian dan keteduhan taman hutan Desa Bumijawa.” Apa lagi Bumijawa menyimpan peradaban sejarah” hal ini disampaikan oleh Kades Bumijawa , Hamzah Sodiq.

Wana wisata watu lawang lokasinya dekat dengan perkotaan Bumijawa menjadikan lokasi wisata ini menjadi alternatif warga Bumijawa untuk menikmati ketenangan hirup pikuk kota, berada di ketinggian 800 Mdpl yang membuat kawasan watu lawang terasa sejuk , apa lagi kalau masuk ke dalam lokasi kita akan menemukan pepohonan besar yang berumur hingga ratusan tahun. Untuk mencapai spot watu lawang pengunjung harus berjalan menelusuri anak tangga dan jalan setapak yang berada di pinggiran tebing. Kawasan watu lawang terdapat punden berundak yaitu belahan batu yang tersusun rapi secara alami seperti pembentukan candi. Tempatnya sangat menarik karena serba batu, juga menyimpan cerita sejarah kuno seperti ada Tuk Jimat dan makan mbah Mayakerti. Dari puncak Punden berundak kita dapat menikmati view Desa Bumijawa dan jika kita turun ke bawah kita akan menemukan bangunan unik peninggalan Belanda yang dinamakan jeding atau tempat penyimpanan air dan di dalam bangunan tersebut terdapat kolam air yang diberi nama Tuk jimat, Tuk kele, Tuk Betatal dan terdapat Bendungan Kele berfungsi sebagai irigasi sawah berada di sekitarnya, air di sekitar sini dapat langsung diminum karena kandungan mineral yang tinggi membuat air tersebut banyak manfaatnya bagi kesehatan.

Sejarah Mata air tuk jimat di temukan oleh Cemuluk (sesepuh Desa Bumijawa). Pada mulanya mbah Cemuluk melihat sekumpulan burung yang sedang mematuk-matukkan paruhnya ke tanah terdengar seperti bunyi gamelan kenong/ Gong kecil dan di ambilah benda tersebut oleh mbah Cemuluk tiba-tiba keluarlah air yang sangat deras dari dalam tanah dan mbah Cemuluk berjalan mengikuti aliran air tersebut sampai berhenti di suatu tempat dan menancapkan tongkat kayu yang di bawanya ke tanah, masyarakat mengenalnya dengan nama Si Janggleng. Sejak ditemukanya sumber mata air maka sejak saat itu di adakan upacara adat di sekitar sumber mata air oleh juru kunci pusaka Bende, pada tanggal 10 Robiul awal pusaka bende kramat peninggalan mbah Cemuluk diarak berkeliling Desa Bumijawa sebagai simbol kejayaan dan kemamuran Desa Bumijawa. Setiap setahun sekali diadakan khaul akbar di makam mbah Mayakerti sebagai tradisi nenek moyang yang hingga kini masih terus di lestarikan.
Harga tiket Watu lawang sangat terjangkau sebesar Rp 2000/motor atau Rp 3000/mobil. Fasilitas masih terbatas hanya ada beberapa warung jajan ‘warung PKK’ yang menyajikan makanan khas Desa Bumijawa, pada hari- hari tertentu biasanya ramai nah jangan keenakan di spot foto ya gentian ,Guys. Demi kelestarian dan keindahan jangan lupa buang sampah pada tempat-tempat yang telah disediakan. Wisata Watu Lawang menjadi destinasi wisata yang akan memberikan pelajaran bagi milenial akan sejarah peradaban dengan kearifan lokal.
