
Identitas Buku
Judul Buku : Catatan Sejarah Situs Semedo
Dunia Purba Semedo
Pengarang : Tofik Rochadi
Penerbit : Lembaga Pengkajian Pengembangan Bahasa Tegal
Cetakan : Tahun 2018
Kategori : Non Fiksi
Jumlah halaman : 46 Halaman
Manusia purba dan fosil fauna ditemukan di wilayah Kabupaten Tegal? Apakah benar?ternyata benar pembaca, melalui buku yang berjudul Catatan Sejarah Situs Semedo Dunia Purba Semedo, ketidakpercayaan pembaca dapat terjawab melalui tulisan di buku ini. Penulis mampu menceritakan secara tertulis sejarah ditemukannya fosil-fosil dunia purba dengan lugas dan jelas. Buku ini sangat bermanfaat untuk menunjang bahan bacaan literasi yang berbasis kearifan lokal di wilayah Kabupaten Tegal. Tidak hanya ceritanya yang menarik tapi juga membuat penasaran pembaca untuk berkunjung ke Museum Semedo di Kec.Kedungbanteng Kabupaten Tegal.
Museum ini sedang dipersiapkan menjadi destinasi wisata yang mendunia oleh pemerintah sekaligus menjadi ikon Kabupaten Tegal. Wah hebat! Jika pembaca belum bisa mengunjungi Museum Semedo secara langsung, paling tidak buku ini dapat mewakili dan memberikan pengetahuan tentang dunia purba yang pernah hidup jutaan tahun lalu di Kabupaten Tegal. Kesahihan isi tulisan diperoleh dari wawancara sang penemu fosil-fosil pertama, yaitu pak Dakri dan keterangan tambahan dari putrinya yang bernama mba Tanti Asih. Apa yang ditemukan beliau lalu diteliti kembali oleh Balai Arkeologi Yogyakarta di tahun 2005-2008 dan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP).
Ternyata hasil penelitian sangat signifikan dan akurat. Ada yang lebih menakjubkan lagi, yaitu telah ditemukan fosil-fosil spesies Gigantopithecus Black yaitu Gorila atau Kingkong di wilayah Semedo ini. Seperti apa bentuk fosilnya? Silahkan baca buku ini. Meskipun foto-foto yang ada dalam buku ini hanya berwarna hitam putih tapi informasi yang didapat memberikan banyak wawasan tentang Dunia Purba, menambah penasaran pembaca untuk membacanya dan justru sekaligus menarik pembaca untuk berkunjung ke Museum Semedo secara langsung. Dengan membaca buku ini, pembaca sudah mendukung gerakan Literasi dan kearifan lokal budaya setempat. Jika bukan kita yang menjaganya, lantas siapa lagi? Salam Literasi! (Jasmine A. A., siswi kelas 9C)
